Pertemuan kali ini menjelaskan tentang Multiple Intelligence, Creative Intelligence, dan Lateral Thinking.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kreativitas untuk berkembang secara maksimal, berikut faktor-faktor yang dapat dipelajari:
- Otak Kiri dan Kanan
- Mind Mapping
- Kelancaran
- Fleksibilitas
- Orisinalitas
- Pengembangan Gagasan
- Asosiasi
Saya mendapatkan sebuah pengetahuan dari dosen saya yang mengajarkan etika bagaimana cara melihat otak mana yang sering kita pakai. pertama-tama kita menjulurkan tangan kedepan lalu kita kepal tangan kita, bila ibu jari tangan kiri yang diatas berarti kita lebih dominan menggunakan otak kanan, sedangkan bila tangan kanan diatas kita dominan keotak kiri. Dan juga bila kita berpangku tanga, prinsipnya sama seperti yang ibu jari tadi. Saya tidak tahu juga hal itu benar atau tidak, tapi bisa membuat kita mengetahui kekuatan kita dan menggunakannya semaksimal mungkin.
Walaupun banyak yang bilang bahwa yang dominan keotak kanan itu biasanya orang-orang seni dan mereka kreatif, tapi bisa juga bahwa orang-orang yang menggunakan otak kiri lebih kreatif dibandingkan otak kanan, karena mereka melakukan sesuatu secara rasional menurut pendapat saya.
Dan juga menurut saya mind mapping tidak selalu mempengaruhi seseorang untuk menjadi kreatif, tidak semua orang. Karena menurut saya dan teman-teman saya kami tidak bisa belajar dengan menggunakan mind mapping, malah tidak masuk keotak. Apa mungkin karena kami semua orangnya tidak kreatif atau memang tidak sesuai dengan diri kami.
Menurut saya kita bisa mengembangkan kekreatifan kita dengan melakukan apapun juga, tidak tergantung dengan yang ada diatas itu, karna yang namanya kreatif itu kan tidak dibatasi, kita harus mengetahui diri kita sendiri lebih dan lebih lagi.
Menurut saya kita bisa mengembangkan kekreatifan kita dengan melakukan apapun juga, tidak tergantung dengan yang ada diatas itu, karna yang namanya kreatif itu kan tidak dibatasi, kita harus mengetahui diri kita sendiri lebih dan lebih lagi.
Lalu ada 8 macam kecerdasan menurut Howard Gardener. Dan semua kecerdasan ini bisa bergabung menjadi satu, tidak semua bergabung jadi satu, tapi beberapa.
Seperti contoh yang waktu itu pak iswandono ceritakan tentang blog salah seorang teman saya yang menuliskan diblognya bahwa ayahnya seorang dokter tetapi suka bermusik. Itu gabungan dari kecerdasan musik dan naturalis. Contoh lainnya seperti Ruhut Sitompul yang sering dipanggil si poltak, dia itu pengacara yang juga bisa menjadi artis. Dia mempunyai 2 gabungan kecerdasan, dan mungkin ada gabungan kecerdasan yang lain, saya tidak tahu karna saya tidak mengenal dia, saya hanya mengetahui dia.
Lalu Ilham (mahasiswa) bertanya kepak iswandono, bahwa murid kursus dia mengatakan bahwa 'ngapain juga belajar statistik, kalau nanti juga gede jadi ibu rumah tangga'. Saya setuju dengan jawaban pak iswandono walaupun ada yang mau saya tambahkan. Pak iswandono berakata mungkin nanti pelajaran statistik itu bisa berguna dalam kehidupan rumah tangga dia seperti pembelanjaan,dll. Yang saya mau tambahkan adalah, kita tidak tahu apa yang akan terjadi oleh kita, setahun kemudian ataupun sedetik kemudian. Lebih baik mempelajari semuanya. Seperti saya, dulu saya bercita-cita menjadi seorang dokter, saya menaikan nilai-nilai IPA saya dan saya menganggap remeh pelajaran IPS, lalu ketika sma saya terkena sakit, disitu saya mengurungkan niat saya untuk menjadi dokter karena saya takut disuntik. Lalu akhirnya saya menyesal karena waktu itu saya tidak mempelajari IPS dengan sebaik-baik mungkin. Karna lebih baik kita mempelajari semuanya untuk menjadi pegangan kita untuk masa depan kita.
Maaf jadi panjang dan ada curhat sedikit :).
Tapi saya agak penasaran, apakah ada orang yang mempunyai kedelapan kecerdasan itu ? bagaimana dia mendapatkannya? dan apakah itu bisa dibilang manusia sempurna?.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar